The Psychology of Money, 3 Prinsip Berperilaku terhadap Uang

Seperti judulnya, buku ini menekankan aspek psikologi terhadap uang. Dua puluh chapter pada buku ini dibahas dari aspek perilaku manusia, ia mencontohkan beberapa nama, baik orang biasa maupun orang kaya.

Garis merah dari seluruh kasus yang diceritakan Morgan Housel adalah mencapai kesuksesan finansial itu salah satunya bisa diraih dengan memahami emosi dan value kita. Karena menurutnya, urusan finansial besar kaitannya pada keputusan emosional, bukan hanya urusan rasional semata.

Setelah membaca buku ini, setidaknya aku sendiri jadi lebih bisa aware terhadap alasan di balik keputusan finansial-ku. Dan aku expect bahwa setelah kamu juga membaca buku ini, setidaknya ada satu behavior yang kita ambil dari pelajaran dari buku The Psychology of Money.

1. Attitude terhadap Uang

Pembicaraan mengenai uang seringkali diidentikkan dengan rasionalitas, tetapi sama seperti keputusan pada masalah percintaan, justru keputusan keuangan kental akan aspek emosional.

Memahami Keberuntungan dan Resiko

Sederhananya, curiga terhadap apa yang too good to be true. Ketika keadaan sedang sangat bagus, sadari bahwa itu tak sebagus yang kita pikirkan.

Morgan Housel menjelaskan pada chapter 2 ini bahwa ada faktor keberuntungan di tiap kesuksesan. Ia menjelaskan kasus kesuksesan Bill Gates, satu dari segelintir orang yang sekolah di SMA yang punya komputer. Bill Gates punya keuntungan satu banding sejuta karena bersekolah di Lakeside.

Sebaliknya, Kent Evans, teman dari Bill Gates yang sama-sama punya ambisi dan kecerdasan yang tinggi. Ia hebat dalam bidang bisnis. Namun, ia meninggal dalam kecelakaan naik gunung sebelum lulus SMA. Peluang tewas di gunung ketika itu kira-kira satu banding sejuta.

Bill gates mengalami keberuntungan satu banding sejuta, Kent Evans mengalami risiko satu banding sejuta.

Poin ceritanya adalah keberuntungan dan resiko sama-sama merupakan realitas bahwa tiap hasil dipengaruhi banyak kekuatan, selain upaya individual.

Morgan Housel berharap pembaca bisa mengetahui bahwa di setiap keberhasilan finansial, kita pun harus percaya faktor risiko yan bisa memutarbalikkan cerita. Pahami sekali lagi, ada faktor keberuntungan dan faktor risiko yang selalu memengaruhi suatu hasil.

Merasa Cukup

Pada chapter 3 ini, Morgan Housel memberikan penjelasan mengapa merasa cukup adalah kunci terbaik dalam berhadapan dengan uang.

Ia menceritakan tentang Rajat Gupta dan Bernie Madoff, dua orang pebisnis yang sudah mempunyai kekayaan besar. Tetapi karena keinginan untuk mendapatkan miliaran uang, mereka tertangkap atas tindakan insider trading yang membuat karier dan reputasinya hancur.

Mereka sangat kaya, sudah punya semuanya, dari jumlah kekayaan, prestise, hingga kebebasan (freedom). Tetapi mereka membuang itu semua karena ingin lebih.

Mereka tidak tahu kapan harus berkata cukup.

Nah, memang sedikit yang mempunyai kekayaan seperti Gupta dan Madoff. Tapi sebagian besar dari kita pasti akan sampai di titik jumlah kekayaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sehingga menurutnya, merasa cukup adalah suatu hal yang perlu dipraktikkan.

Poin ceritanya adalah menyadari bahwa nafsu untuk menginginkan lebih akan mendorong kita ke titik penyesalan. Analoginya, bayangkan kita memakan terus tanpa henti. Sedikit yang akan bisa mencoba karena rasa muntah akibat makan tanpa henti itu lebih sakit daripada kenikmatan makan.

Beberapa hal tidak layak diusahakan dengan menanggung risiko, apa pun potensi keuntungannya.

Ketahui kapan cukup, ketahui kapan waktunya berhenti mengambil risiko yang bisa mengancam semuanya.

2. Bertindak Bijaksana dalam Mengeluarkan Uang

Menjadi Kaya Vs Tetap Kaya

Pelajaran dari chapter 5 ini adalah mendapat uang itu satu hal. Menjaganya itu lain cerita.

Dalam mendapatkan uang, perlu ada pengambilan risiko dan sikap optimis, namun sebaliknya, menyimpan uang membutuhkan kerendahan hati.

Morgan Housel banyak memberikan cerita dari seorang yang berinvestasi dan trading, lalu bisa berakhir gagal ataupun sukses. Tapi satu hal dari inti cerita ini adalah justru strategi terbaik dalam investasi ataupun bisnis adalah soal kemampuan bertahan dalam waktu lama.

Dengan mindset bertahan, kita bisa rendah hati, hemat, dan menghindari risiko yang tidak bijaksana, karena kita tahu game yang kita mainkan adalah jangka panjang. Fokusnya bukan pada membangun kekayaan secara instan, tetapi bagaimana melindunginya agar aset kita dapat terakumulasi dengan jumlah yang moderat.

Contoh perilaku yang bisa diterapkan adalah barangkali kita diversifikasi portofolio, tidak lagi menaruh semuanya ke saham atau crypto, tetapi bisa menaruh sekian persen di investasi yang lebih stabil, seperti obligasi.

Ingat sekali lagi, bertahan dalam jangka panjang adalah strategi yang tidak menggiurkan di jangka pendek. Karenanya, kenali risiko yang bisa kita tahan rasa sakitnya.

Paradoks Orang dalam Mobil

Aku suka banget sama paradoks ini. Pada intinya adalah keinginan untuk membeli barang mewah itu tidak mendatangkan respect secara murni, justru mereka menjadikan itu sebagai patokan untuk hasrat mereka sendiri agar disukai dan dikagumi.

Bayangkan saat melihat orang mengendarai mobil bagus, kita jarang berpikir bahwa orang di dalam mobil itu keren, tetapi disadari atau tidak, kita cenderung berpikir membayangkan betapa kerennya kalau saya punya mobil itu.

Tujuan dari buku The Psychology of Money, terutama pada chapter 8, menekankan bahwa membeli barang mewah untuk mendapatkan rasa hormat atau kagum dari orang lain adalah suatu kesalahan. Membeli mobil mewah, gadget yang mahal, dan pakaian yang glamor barangkali bukan menjadi cara satu satunya untuk mendapatkan respect.

Kerendahan hati, kebaikan, dan empati lah yang akan mendatangkan lebih banyak rasa hormat.

Di sisi lain, banyak argumen tandingan terhadap poin dari chapter ini. Dalam beberapa kasus, seperti di lingkungan bisnis, status simbol bisa mendatangkan respect, orang akan cenderung memperlakukan lebih baik jika menggunakan barang-barang yang berkelas. Tetapi, pada intinya belilah barang yang secara rasional berguna untukmu, jangan mengejar suatu goals yang artificial.

3. Mindset yang Dipraktikkan untuk Melindungi Uang

Stop Mencoba Jadi Sangat Rasional

Housel berargumen bahwa dalam membuat keputusan finansial, pilihlah yang masuk akal. Maksudnya pilih opsi yang membuat kita tenang.

Orang yang rasional akan menyusun strategi finansialnya secara matematis, mengoptimalkan hal yang paling membawa kekayaan. Sebaliknya, investor masuk akal akan mempertimbangkan elemen non-finansial lainnya.

Dengan memprioritaskan masuk akal, alih-alih rasional, kamu bisa mencegah elemen-elemen kerugian lain yang mungkin tidak diperhitungkan dalam lembar finansial. Misalnya, kamu inves di crypto karena dari perhitungan rasional, nilainya akan naik besar. Tetapi apakah kamu menghitung juga biaya saat berinvestasi di crypto? Harus mengecek setiap hari, dipenuhi keraguan, dipenuhi ketakutan akan merugi, dan juga misalnya kamu akan mengecewakan keluarga karena membuang uang di crypto.

Perasaan-perasaan emosional dan beban mental tersebut perlu dihitung pula dalam apapun keputusan finansial. Karenanya, buku The Psychology of Money memprioritaskan pilihan masuk akal daripada rasional.

Poin ceritanya adalah, perhatikan elemen non-finansial, kebahagiaan dan ketenangan pikiran.

Menabung Uang

The Psychology of Money mengajarkan aku terkait pesan yang dianggap konservatif, tetapi nilai kekuatannya sangat besar: menabung. Sederhananya, punya tabungan pribadi dan gaya hidup sederhana itu adalah rumus sukses dalam efisiensi keuangan. Keduanya adalah hal yang paling bisa dikendalikan.

Menabung gak memerlukan tujuan membeli sesuatu secara spesifik. Kata Housel, dunia gak bisa diprediksi. Menabung adalah berjaga-jaga terhadap kehidupan yang tidak terduga di masa depan.

Dengan punya ambisi untuk menabung, secara naluri kita akan mengurangi keinginan kita untuk berbelanja lebih. Sekali lagi, dengan menabung, kamu juga menanam keluwesan. Artinya, kamu punya kendali atas waktu dan pilihan, alih-alih merasa harus fit di suatu situasi saja.

Keuntungan dari uang di bank membawa keuntungan yang tidak terhitung. Mulai sekarang, mulai sisihkan uang, harapannya kamu bisa menanam rasa kendali terhadap masa depan yang tidak pasti.


Bagiku buku ini itu seperti nasihat lama, tetapi nilainya besar. Pelajaran terbaik dari buku ini kupikir adalah tentang mengetahui faktor emosional, dan bersikap rendah hati.

Overall, buku ini bagus, aku harap kita semua bisa merasa sadar terhadap keputusan finansial yang kita buat dan bisa bertahan dalam waktu lama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *