5 Pelajaran Berharga dari Atomic Habits tentang Perbaikan Diri

Makna lebih dalam dari Atomic Habits adalah melakukan perbaikan sekecil mungkin yang dilakukan secara berkala dan membawa hasil yang signifikan. Inilah yang disampaikan oleh James Clear, untuk mengubah hidup lebih baik justru tidak selalu melalui perubahan drastis yang memakan banyak energi dan waktu.

Membaca buku Atomic Habits bagiku bukan sekadar membuat aku tahu cara membangun habit baru, tapi lebih dari itu mengingatkan aku kembali kepada pentingnya self-awareness. Nah, James Clear berhasil menjelaskan argumen di dalam bukunya dengan scientific reason yang tentu terbukti secara efektif.

Bahkan, aku nggak ragu untuk menetapkan buku ini sebagai buku terbaik yang mengubah perspektifku tentang esensi self-improvement. Ada banyak pesan-pesan menohok yang cukup membuat pembacanya untuk tergerak melakukan perubahan positif.

Mulailah dari Menentukan Identitas Diri

Ini adalah visualisasi dari tiga layer perubahan perilaku. Layer yang terdalam adalah yang terpenting, namun seringkali terlupakan, yaitu identitas. Layer kedua adalah sistem atau habit itu sendiri. Terakhir, layer terluar atau aku menyebutnya sebagai hasil nyata (outcomes).

tiga layer perubahan perilaku buku atomic habits

James Clear serius banget membahas bagian ini. Di awal buku, ia memaparkan bahwa perilaku kita adalah keluaran dari identitas diri yang kita pegang. Penting banget untuk identifikasi identitas diri kita dengan hal-hal yang positif.

Dalam mengadopsi suatu habit, idealnya harus dimulai dari mengenali identitas diri agar kita bisa mengakuisisi karakteristik utama dari suatu identitas. Misalnya, jika tujuan kita menjadi seorang yang rajin lari, maka kita harus mengintegrasikan kepercayaan bahwa “Saya adalah pelari,” ke dalam diri kita. Karena di balik setiap perilaku, ada serangkaian kepercayaan atau identitas yang membuat seseorang berperilaku demikian.

Sekali lagi, jika mau jadi penulis, tetapkan ini menjadi identitas diri, dan berperilakulah layaknya seorang penulis. 

Tetapi, hubungan identitas dan tindakan bukanlah hubungan satu arah. Maksudnya, setiap tindakan yang kita lakukan, juga ikut membentuk bagaimana kita melihat diri kita. Jika rumah kita selalu berantakan, kita akan melihat dan percaya bahwa kita adalah orang yang berantakan.

Bagiku konsep ini sangat penting, bahkan aku jadikan sebagai highlight utama dari buku ini. Coba, sekarang refleksi kira-kira tujuan dan habit apa yang mau kita bentuk? Setelahnya, integrasikan kepercayaan tersebut sebagai bagian dari identitas diri kita. 

Prioritaskan Membuat Sistem daripada Goal

Poin selanjutnya yang disampaikan buku Atomic Habits adalah fokus pada perbaikan sistem atau habit, atau layer kedua dari diagram tiga layer perubahan perilaku. 

Inilah yang menjadikan buku ini berbeda dari lainnya, penulisnya sangat menekankan di awal bahwa mencapai suatu tujuan adalah hasil luaran saja, perubahan yang baik perlu dimulai dari identitas dan sistem.

James Clear mengatakan bahwa salah satu yang membedakan dari mereka yang berhasil dengan mereka yang gagal itu terletak pada sistem mereka. Mereka sama-sama punya tujuan yang sama, misalnya kamar yang rapi, dapur di rumah selalu bersih, dan lain sebagainya. Tapi, yang membedakan adalah bagaimana cara mereka mencapai tujuan tersebut.

perubahan 1% setiap hari buku atomic habits

Inilah mengapa konsep perubahan 1% selama setiap hari digaungkan oleh James. Sistem atau habit yang baik, ialah yang dilakukan secara berkelanjutan.

Contohnya, kita ingin kamar kita rapi. Pada hari Sabtu kita jadi termotivasi untuk merapikan kamar, tetapi besok pagi kamar kita akan kembali berantakan. Alih-alih menunggu motivasi, kita bisa mulai terapkan bahwa setiap bangun tidur, kita membereskan kasur, kemudian ketika sore hari kita menyapu dan mengepel ruangan kamar. 

Pada intinya, perubahan kecil inilah yang membawa kita untuk mencapai tujuan besar kita.

Kenali 4 Tahapan dalam Proses Membentuk Habit

cara membentuk habit buku atomic habits

Otak kita terlatih dalam melihat apa yang ada di sekitar. 

Ada 4 proses dari terbentuknya suatu habit atau kebiasaan. Pertama, cue, ini adalah semacam trigger. Jadi, ketika kita melihat suatu benda, kita akan teringat terhadap suatu informasi. Misalnya, saat melihat sepatu lari di bawah meja. Otak kita akan mengasosiasikan dengan segala informasi sekitar sepatu lari, misalnya rencana kita untuk ikut acara marathon.

Kedua, craving, ini adalah reaksi emosional dari melihat trigger tersebut. kita akan teringat pada perasaan merasa senang setelah berlari. Intinya, pada bagian ini, kita bisa melihat reward yang didapat dari aksi tersebut.

Ketiga, response, adalah tindakan yang kita ambil. Bisa jadi kita akan memutuskan untuk berlari atau tidak lari. Pada tahap ini sering kali tidak terjadi aksi karena kita menilai bahwa aksi tersebut terlalu susah dan banyak hambatannya. Oleh sebab itu, James berargumen bahwa buat aksi itu menjadi atraktif dan mudah dilakukan. Misalnya, siapkan juga jaket lari di dekat sepatu agar kita makin terdorong untuk berlari.

Keempat, reward. Mengapa perlu ada reward? Dengan ini, kita bisa mengasosiasikan perasaan puas dan senang, dan kemungkinan besar kita akan mau mengulangi habit ini kembali. Misalnya, setelah berlari kita akan main game, selain itu badan kita merasa segar.

Lakukan Terus Habit sampai Menjadi Kebiasaan Otomatis

perilaku otomatis dan repetisi buku atomic habits

Nah, minggu pertama kita melakukan habit baru tentu akan terasa mudah. Tetapi, yang menarik adalah bagaimana caranya di minggu kedua, minggu ketiga, atau bulan selanjutnya kita tetap bisa komitmen untuk melakukan habit baru tersebut. 

Sampai sini mungkin kita bisa refleksi singkat, misalnya pada goals yang kita buat saat awal tahun. Berapa banyak sih yang masih kita lakukan?

Paradoksnya adalah semakin kita disiplin, lama kelamaan habit tersebut akan menjadi hal biasa dari bagian hidup kita. Percayalah pada prinsip ini.

Sifat persisten inilah yang membedakan mereka yang sukses dengan yang tidak. Ketika kita selalu showing up dalam jangka panjang, dampaknya adalah menguatkan identitas diri kita serta membuat habit ini jadi terautomasi.

Salah satu contohnya adalah setiap pagi kita gosok gigi. Itu adalah bentuk habit yang sudah otomatis, kita tidak lagi berpikir akan melakukan gosok gigi atau tidak, kita hanya melakukannya saja.

Nah, semoga habit baik yang mau kita bentuk bisa sampai ke tahap semudah gosok gigi, ya. Tentu dengan cara terus menerus melakukan habit secara konsisten hingga terbiasa.

Ketahui Powerful Tips dalam Melakukan Atomic Habits

Pada proses habit tadi, kita tahu bahwa ada tahap response. Bagaimana cara agar kita tetap disiplin?

two minute rule atomic habits

Gunakan two minute rule. Sederhananya adalah lakukan aksi itu dari langkah terkecilnya. Pecah habit kita menjadi serangkaian aksi yang mudah dilakukan.

Misalnya, target kita membaca satu bab buku. Nah, mulailah baca dengan anggapan membaca untuk 2 menit saja. Dengan begitu, ini akan menstimulasi otak untuk melakukan aksi karena kegiatannya mudah untuk dilakukan. Menariknya, biasanya kita akan cenderung bertahan lebih dari 2 menit dan tidak disangka kita bisa menyelesaikan target untuk membaca satu bab buku.

Tips ini juga efektif digunakan dalam mengurangi kebiasaan procrastinate. Jangan membebani pikiran bahwa kegiatan ini akan memakan waktu yang lama. Make it easy!


Impresi aku terhadap keberadaan buku ini tuh sangat bersyukur. Dengan cara bercerita James Clear yang smooth, ini membuat aku jadi lebih engage sama bukunya. Banyak praktikal tips yang bisa diambil, tetapi 5 poin di atas adalah konsep-konsep yang menurutku dampaknya sangat signifikan terhadap rencana untuk melakukan perbaikan diri, yang tentunya jika diimplementasikan dengan benar.

1 thought on “5 Pelajaran Berharga dari Atomic Habits tentang Perbaikan Diri”

  1. Pingback: Sedang Burnout? Atasi dengan Cara Ini Agar Kembali Produktif - bacapaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *