set boundaries agar hidup kita tenang

Set Boundaries dan 3 Tips Setting Boundaries dari Seorang Terapis

Dalam buku Set Boundaries, Find Your Peace, penulisnya menjelaskan betapa pentingnya memiliki boundaries yang jelas dalam menjaga keseimbangan dalam relationship. Buku ini ditulis oleh Nedra Tawwab, ia merupakan terapis yang sudah berpengalaman sehingga penjelasannya sangat mudah dipahami dan diikuti.

Membaca buku ini membuat kita berpikir ulang mengenai model relationship yang ada di hidup kita, baik itu dalam pacaran, pernikahan, pekerjaan, maupun dalam pertemanan. Lebih dalam lagi, penulisnya menyinggung banyak soal healthy relationship dan unhealthy relationship, yang mana salah satu pilarnya berasal dari boundaries yang kita buat.

Boundaries adalah bagaimana kamu mau diperlakukan oleh orang lain. Tidak terbatas pada hubungan di suatu pernikahan, bahkan di pertemanan pun boundaries perlu ditetapkan. Lebih lanjut, Nedra Tawwab bilang bahwa set boundaries juga upaya untuk menjaga kesehatan mental. Tentunya nggak enak jika dalam suatu relationship kita banyak merasakan kekecewaan, kan? 

2 Jenis Unhealthy Relationship 

Tawwab menjelaskan bahwa tipe boundaries yang buruk akan membawa pada relationship yang buruk pula. Pertama, weak boundaries, ini merupakan boundaries yang terlalu fleksibel, contoh dekatnya adalah kita tetap menerima ajakan untuk main, meskipun kita sedang merasa tidak baik untuk bertemu banyak orang. Weak boundaries biasanya terbentuk karena dorongan untuk membuat orang lain merasa senang lebih tinggi daripada memprioritaskan dirimu sendiri.

Kedua, strict boundaries adalah kebalikan dari jenis pertama. Strict boundaries sangat mendorong orang jauh untuk menjaga dirimu. Pada jenis ini kita nggak banyak mengkompromikan situasi dan cenderung keras kepala menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, terlepas dari seberapa penting hal tersebut.

Sebagai contoh, mungkin sulit bagi kita untuk membicarakan topik sensitif dengan anggota keluarga, bahkan jika topik tersebut sebenarnya perlu dibicarakan dan dicari solusinya. Sifat tersebut merupakan bentuk defense terhadap kondisi emosional dirimu.

3 Cara Setting Boundaries 

1. Tentukan Boundaries

Pada tahap ini silakan refleksikan apa yang bikin kamu nggak nyaman dan sebaliknya. Buku ini sangat merekomendasikan untuk coba track dari value yang kamu pegang, dari situ kamu bisa menerjemahkan aktivitas atau perilaku seperti apa yang membuat kamu nyaman atau nggak nyaman. Misalnya, kamu adalah orang yang disiplin dan kamu menghargai waktumu, sehingga kamu expect orang lain pun juga bisa menghargai waktumu.

2. Komunikasikan Boundaries kepada Partner

Nah, selanjutnya setelah tahu apa yang nyaman dan yang nggak nyaman untukmu, sampaikanlah hal tersebut. Momen yang tepat untuk mengomunikasikan salah satunya adalah saat di mana partnermu melewati boundaries yang kamu buat. Misalnya, temanmu telat datang 20 menit, nah kamu bisa katakan pada temanmu dengan baik-baik bahwa kamu nggak suka jika dia telat. Dengan begitu temanmu mengerti bahwa kamu nggak nyaman dengan sifat telat dan nggak disiplin waktu.

Kenapa harus segera mungkin mengomunikasikan boundaries? Di buku ini dijelaskan ketika kita terbiasa menoleransi hal tersebut, dan juga nggak langsung speak up, kamu hanya memendam perasaan kecewa dan di sisi lain kamu nggak berupaya untuk solve masalah tersebut. Itu sangat buruk kepada mental kamu.

Selain itu, Tawwab menyarankan untuk menghindari reasoning dari boundaries tersebut. Tujuannya adalah untuk menghindari debat dengan orang lain. Contoh komunikasi boundaries yang baik adalah “Usahakan kamu jangan telat dari waktu awal yang kita setujui. Kalau kamu telat, aku nggak bisa lagi pergi main sama kamu.” Model seperti ini menutup perdebatan panjang lebar terhadap prinsipmu tersebut.

Sebaliknya, kalau kamu menjelaskan reasoning dari boundaries-mu tersebut, misalnya dengan menyatakan bahwa kamu bosan dalam menunggu. Hal tersebut bisa berpotensi di mana partnermu mungkin akan mengatakan bahwa kamu bisa menunggunya sambil main hp atau scroll sosial media.

3. Take Action

Pada tahap ini menyangkut pada gimana kamu menguatkan agar orang respect terhadap boundaries-mu. Salah satunya adalah dengan memberikan konsekuensi. Misalnya, meskipun sudah kamu beritahu bahwa kamu nggak suka telat tetapi ia masih telat, kamu bisa mengurangi jadwal bermain dengan dia. 

Pada intinya adalah bagaimana kamu menghargai boundaries kamu dengan nggak menoleransi kesalahan yang dibuat orang lain. Penulis menyampaikan bahwa mungkin di awal akan sulit untuk dilakukan, kamu bukan hanya melakukan yang terbaik untuk kedua belah pihak, tetapi juga untuk menjaga dirimu sendiri.


Ketika kita tahu bagaimana mengomunikasikan apa yang kita butuhkan dan menetapkan boundaries atau batasan-batasan yang harus dijaga, kita dapat menghindari perasaan terjebak atau dimanipulasi dalam relationship. Sebaliknya, kita dapat membangun relasi yang didasari oleh pengertian, saling penghormatan, dan dukungan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *